Tentang Abi dan Menjadi Lebih Bertaqwa

Saat kamu merasa sangat marah dan ingin menyumpah.
Saat kamu sangat sedih dan hanya ingin menangis keras.
Saat kamu begitu merana dan tak tahu harus apa.
Percayalah, aku sudah beberapa kali merasa seperti itu.

Di agama saya, saya kurang yakin apakah ini dari ayat suci, hadits, ataupun sumber lainnya, tapi dikatakan bahwa,
“Semakin tinggi ketaqwaan seseorang, semakin besar pula cobaan yang dihadapi.”
(Mungkin tidak tepat seperti itu, tapi yang jelas bermakna kurang lebih begitu.)

Setelah hampir dua puluh tahun hidup, saya memercayainya. Tentu saja, saya percaya saat pertama kali mengetahuinya. Tapi seiring berjalannya waktu, bahwa cobaan berbanding lurus dengan ketaqwaan, saya semakin percaya.

Bukan. Bukan saya yang merasakannya. Saya rasa saya belum mencapai ketaqwaan minimum karena selama ini, so far, hidup saya masih adem ayem. Belum pernah didera cobaan yang, yah, taulah.

Adalah kedua orang tua saya yang sudah banyak menerima cobaan tersebut.

Ayah saya lebih tepatnya.

Beliau adalah orang yang benar-benar… hmm, sejujurnya saya merasa tidak pantas untuk mendeskripsikannya. Tapi berhubung saya adalah putrinya, saya rasa saya cukup memenuhi qualify untuk ini.

Tau lagu Superheroes-nya The Script? Saya tahu mengapa bisa seperti itu MV-nya.

Ayah saya, seperti ayah-ayah lainnya. Bekerja untuk keluarganya. Saya tahu setiap anak pasti merasa ayahnya begitu istimewa, izinkan saya membocorkan sedikit keistimewaan ayah saya.

Sebelumnya, saya biasa memanggil ayah saya, Abi, begitu juga dalam cerita ini.

Abi adalah apa yang disebut orang-orang dengan sersan. Serius tapi santai. Dalam keseharian abi sangat santai, tapi juga serius dalam waktu yang bersamaan. Beliau bangun beberapa menit sebelum Shubuh, sholat berjamaah di masjid, berolahraga, mandi, kemudian berangkat bekerja. Kapan sarapan? Abi sarapan sebelum olahraga, setelah Shubuh, bahkan terkadang sebelum Shubuh. Bukan sahur (keadaan Abi tidak cukup sehat untuk puasa), hanya saja, Abi sudah terbiasa sarapan sepagi itu.

Abi adalah seorang guru, guru Fisika di salah satu SMA di Babat tepatnya. Yaps, kami berdomisili di Bojonegoro, kotanya, dan Abi mengajar di Babat, salah satu kecamatan di Lamongan yang berjarak sekitar satu jam jika menaiki bus umum. Jadi, ya, setiap pagi Abi akan naik bus umum yang membawanya ke Babat, dan akan sampai rumah sekitar jam dua atau tiga sore, jika tidak ada rapat maupun urusan lain.

Ya, selama bertahun-tahun. Mulai dari tahun 1980-an menjadi TU, lalu guru. Tahun 1999 menjadi kepala sekolah, lalu sejak beberapa tahun kembali menjadi guru karena masa jabatan kepala sekolahnya sudah habis.

Bertahun-tahun mengajar, mengurus sekolah, mengabdi, tentu saja tidak sekali dua kali masalah datang. Saat saya berada di bangku SMA kelas tiga, ibu saya, Ummi saya memanggilnya, menceritakan masalah yang sedang Abi hadapi. Ummi bercerita kepada saya karena menganggap saya sudah cukup dewasa untuk mengetahuinya. Dan sekarang ini… lagi.

Satu setengah tahun yang lalu saya menangis setelah mendengar cerita Ummi.

Tapi, Ummi terus menguatkan. Saya pun berusaha merelakan. Saya tidak bisa membantu apapun kecuali doa. Dan Abi, Abi hanya terus menjadi manusia yang lebih baik lagi. Abi semakin rajin jamaah di masjid. Semakin sering mengaji. Semakin disiplin menjaga kesehatan. Abi terus menjadi yang lebih baik.

Sekarang? Saat masalah lain menerpa, Abi hanya bilang bahwa ini memang yang terbaik. Ummi? Ummi tersenyum di samping Abi.

Saya?

Well, here I am, smiling and yawning.

Walaupun sebenarnya ingin menangis dan misuh-misuh.

Bojonegoro, 27 Januari 2016
17.36 WIB
P.S. Ditulis penuh ketergesaan karena harus segera mandi sore.
P.S.S Seharusnya masih banyak yang bisa ditambahkan, tapi sekian dulu.

Advertisements

2 Replies to “Tentang Abi dan Menjadi Lebih Bertaqwa”

    1. Mungkin semacam yg dibilang Joel Osteen mas,
      You’re going to go through tough times – that’s life. But I say, ‘Nothing happens to you, it happens for you.’ See the positive in negative events.
      Hehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s