(Semoga Bukan) Omong Kosong

Bagian terburuk dari kebebasan adalah kebablasan.

Bagian terburuk dari harapan dalah kekecewaan.

Bagian terburuk dari kebohongan adalah pembenaran.

Saya memiliki ketiganya. Kebebasan, harapan, dan kebohongan.

Kebebasan saya rasakan sejak merantau dari rumah untuk kuliah. Saya bertanggung jawab penuh dengan segala yang saya lakukan. Rutinitas semacam jam berapa saya bangun, pukul berapa saya melaksanakan sholat, sarapan atau tidak, terlambat masuk kelas atau tidak, hingga hal-hal seperti berapa banyak waktu yang bermanfaat, dengan siapa saya berteman, siapa yang lebih saya percaya, dan semacamnya dan semacamnya.

Harapan merupakan hal yang saya miliki juga saya emban sejak lama. Sejak saya lahir mungkin. Kedua orang tua saya sudah memiliki harapan untuk saya. Tidak muluk-muluk dan sudah berulang kali ditekankan pada saya. Mereka berharap saya bisa menjadi anak yang mengerti, peka dengan lingkungan sekitar, dan sholehah. Bertambah tahun, harapan-harapan tambahan mungkin mengiringi. Namun, harapan awal tidak pernah berubah.

Kebohonganโ€ฆ Saya percaya semua orang pernah berbohong. Entah itu masalah sepele, kebohongan putih, tetap saja pernah berbohong. Karena kebohongan ini hal yang sangat menakutkan bagi saya, sebisa mungkin saya tidak melakukannya. Saat saya melakukannya, saya memastikan tidak ada manusia lain yang mengetahuinya. Ibu saya biasanya tahu saat saya sedang berbohong. Jadi, saya memtuskan untuk tidak pernah membohonginya. Namun ada kalanya, saat saya benar-benar tidak ingin menyebabkan kekecewaan, saya berbohong.

Kebablasan, kekecewaan, dan pengharapan.

Saya bukanlah orang dengan kontrol diri yang baik. Saya lebih banyak menggunakan kebebasan hingga berujung kebablasan. Mungkin karena saya sering mengedepankan mood. Saya lebih sering mengecilkan harapan, karena saya tidak ingin kecewa. Yang justru mungkin menimbulkan kecewa di hati orang tua saya. Saya melakukan berbagai kebohonganโ€ฆ. Karena saya tahu saya memiliki pembenaran untuk itu.

Saya percaya semua orang bisa berubah menjadi lebih baik. Entah dengan paksaan maupun kesadaran. Sejujurnya saya takut, sangat takut. Suatu saat terjadi momen yang mungkin akan mengubah seluruh hidup saya. Momen yang penuh dengan penyesalan.

Sebelum semua itu terjadi, semoga logika dan keyakinan saya bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Hingga kebebasan berujung keberhasilan.

Saat harapan menjadi kenyataan.

Dan kebohonganโ€ฆ hanyalah angan.

 

Surabaya, 14 Februari 2016

17.50 WIB

Advertisements

17 Replies to “(Semoga Bukan) Omong Kosong”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s