No Limit? Really?

IMG_2691
Even sky has its own limit.

“Don’t limit yourself. Many people limit themselves to what they think they can do. You can go as far as your mind lets you. What you believe, remember, you can achieve.”  – Mary Kay Ash.

 

Kenal Mary Kay Ash? Kalo kata Wikipedia sih, Mary Kay Ash was an American businesswoman and founder of Mary Kay Cosmetics, Inc. Was. Karena Bu Mary ini udah meninggal tahun 2001 yang lalu. Meskipun udah 15 tahun meninggal, tapi quote-nya masih banyak ‘beredar’ saat ini.

Don’t limit yourself.

Honestly, saya bener-bener suka sama quote satu ini.

Don’t limit yourself. Just don’t.

Semacam ngasih saya suntikan keberanian buat mencoba hal-hal baru.

Karena pada dasarnya saya adalah orang pendiam dan pemalu, beradaptasi dengan hal-hal di luar zona nyaman saya membuat saya… memiliki berbagai kekhawatiran yang sebenarnya ga penting.

Gimana kalo orang lain nganggep saya ga layak?

Gimana kalo saya ga mampu?

Gimana kalo saya cuma bikin kacau?

Gimana kalo saya dibilang ga asyik?

Dan gimana kalo, gimana kalo yang lainnya…

Well, seiring bertambah waktu kenekatan saya semakin bertambah kayanya. Mencoba hal-hal baru ga seburuk yang saya kira. Mencoba keluar dari zona nyaman sedikit demi sedikit ga semengerikan yang saya pikir.

TAPI, REK.

Besok Senin perkuliahan bakal memasuki minggu ke-5. Makin ke sini kok saya makin memertanyakan keputusan saya untuk ‘don’t limit yourself.’

Jadi begini, selain kesibukan akademik (alias dua puluh tiga SKS) saat ini officially saya mengikuti tiga organisasi, dua komunitas, dan satu proyek kecil-kecilan bareng teman-teman plus satu proyek pribadi. Yang paling membuat sibuk adalah menjadi staff Departemen Dana dan Kewirausahaan di himpunan jurusan saya. Nyaris setiap hari saya baru keluar dari kampus setelah Maghrib. Untungnya, dua organisasi lainnya merupakan zona nyaman dan tidak terlalu menyita waktu saya.

Dua komunitas yang saya ikuti ini sebenarnya atas dasar coba-coba dan gara-gara diajak senior. Yang satu adalah tari dan satunya bola voli. Saya, seorang Salsabila Albarid yang terlahir tanpa keluwesan tubuh, berani-beraninya ikut tari. Awalnya cukup menyenangkan karena semester tiga yang lalu belum sesibuk sekarang. Tapi dengan kesibukan saat ini, latihan tari setiap Sabtu rasanya cuma jadi beban.

Kalo voli, sebenarnya tubuh saya cukup proposional mendukunglah untuk bermain bola voli. Sejujurnya salah satu motivasi saya mulai bermain voli di jurusan karena ibu saya adalah seorang pemain voli yang jago (dulu, pas masih atletis alias pas masih sekolah alias bertahun-tahun yang lalu). Mengingat kurangnya jarangnya ga pernah-nya saya berolahraga, jadi saya pikir tidak ada salahnya saya ikut bermain voli di jurusan setiap Jum’at sore. Tapi mungkin karena kurangnya niat dan rendahnya usaha, jadi agak pengen menyerah main voli. Apalagi, sedang ada olimpiade olahraga antar jurusan se-fakultas. Lagi-lagi saya takut kalo malah bikin kacau tim. Kan pesimis lagi 😦

Proyek bareng temen-temen yang saya bilang di awal inilah yang benar-benar butuh ‘don’t limit yourself.’ Bener-bener daltok (re: budhal tok). Dengan pengalaman yang sama minimnya kami memberanikan diri mencoba dan do’akan saja. Karena mengawali sesuatu tidak pernah mudah. Apalagi proyek ini butuh proses yang teramat panjang. Bismillah.

Sekali lagi, kata Nyonya Mary Kay, “Don’t limit yourself.”

Saya tambahkan satu lagi proyek untuk diri saya sendiri. Murni untuk passion dan kepuasaan pribadi. Semacam membawa me time ke level yang lebih tinggi gitu. Hehe :shy:

TAPI.

Gara-gara ‘don’t limit yourself’ yang udah saya terapkan sebelumnya membuat saya jadi kekurangan waktu untuk mengerjakan proyek pribadi saya ini. Saya jadi lelah lahir batin dan merasa terlalu memforsir diri. Saya jadi bertanya-tanya apakah ‘don’t limit yourself’ ini bener-bener doesn’t have limit.

Seorang teman berkeluh kesah, “Sebenarnya apa yang aku kejar dari segala hal yang melelahkan ini?”

Dijawab oleh teman yang lain,

“Nah, dipikirkan dulu baik-baik niat awalnya apa, jadi bisa fokus ke tujuan dan nggak menguras tenaga di hal lain yang kurang penting.”

Jawaban temen saya ini bener-bener bikin saya tertegun beberapa detik.

Sebenarnya apa yang saya inginkan dan ingin saya capai?

Sejak dulu saya tidak pernah merasa ahli dalam melakukan sesuatu. Jika orang lain genius matematika, saya mungkin ‘hanya bisa’ matematika. Jika orang lain benar-benar ahli melukis, saya mungkin ‘hanya menyukai dan sedikit-sedikit’ bisa membuat sketsa. Jika orang lain bisa menjadi tim paduan suara dengan mudah, saya tidak pernah berpikir akan mengikuti seleksi masuknya. Jika orang lain mampu berlari 2,4 km dalam 10 menit, saya sudah cukup gembira mampu menyelesaikannya kurang dari 30 menit.

Of course no, I’m not that bad. Cuma, apa ya. Rasanya saya begitu standard dalam banyak hal. Dan inilah yang mungkin memacu saya untuk ‘don’t limit yourself.

Mungkin saya harusnya ga menelan bulat-bulat apa yang dibilang Bu Mary. Lagian Bu Mary ini siapa sih, Bil, sampe kamu percaya banget sama dia?

Because everything has its limit. Apalagi kuota internet yang katanya unlimited.

 

 

Surabaya, 6 Maret 2016

21.15 WIB

Advertisements

30 Replies to “No Limit? Really?”

  1. Anak teknik, 23 Sks, Ikut beberapa organisasi :3 kamu dewa sekali wahai Sabila wkwk 😀

    Aku semester 6 ini cuma ambil 20Sks doang loh karena nggak kebagian kelas -_- wkwkwk selo sih, tapi semester ini ada praktek Kerja -_-

    Tapi niat awalku kan ngeblog, jadi aku nggak mau menepikan blog dong ah :3

    Like

    1. Dewa apaan, mulai lelah. Aku malah blm apa2 mas, temenku ada yg masih bisa ikut ukm dsb. Super emg.
      Wkwk yg diceritain di postingan kpn hari ya? Kerja prakteknya pas di semester 6 mas? Ga pas liburan?
      Yhaaaaa, sksnya dikelarin dulu semua mas :p

      Like

      1. Wkwkwk semangaaat dong 😀 kamu tetep dewa. Aku aja nggak pernah bisa kayak kamu :)) semangaat yaaa 😀

        Iyaaap :)) wkwkw sedih nih masih nyari-nyari aja :’ wkwkw

        Kagaaaak pas liburan -_- nggak efektif nih kerja prakteknya pas kuliah -_-

        Hahaha ini baru usahaaaa nyelesain SKSnya 😀

        Like

          1. Ya nggak alay -_- kan soalnya aku nggak kayak kamu, dan kamu hebat. jadi aku kagum, terus aku mendewakanmu wkwkkw

            -_- yakaliiik capek dijalan nantiii wwkkwk tugas-tugas kuliah bisa terbengkalai wkwkkw

            Iyaaap, aku kan semester ini ambil 20sks, nah Kerja Praktek 2 sks wkwkwk setroooong 😀

            Like

  2. Manajemen waktu sih yang penting, kalo mnrt saya. Iya sependapat sama mas parman itu, kalo pas jadi mahasiswa baru emang banyak pengen. Seiring berjalannya waktu bakal bisa milih pasti, mana yang prioritas dan prioritas mendesak.

    semangat buat aktifitasnya, semoga bisa menciptakan limit baru. 😀

    Liked by 1 person

    1. Iya, saya memang harus banyak belajar di manajemen waktu huhuu
      hehe iya, ini teman2 saya juga pada ngerasa terlalu banyak kesibukan.
      makasih mas! aamiiin. semangat juga mas alvian:)

      Like

      1. tapi kalo nggak ngerasa sibuk juga ga bakal belajar tuh, beberapa temen yang dulu ngga sibuk-sibuk banget di awal sampe akhir juga ngga sibuk. Tapi juga pelajarannya ga boleh ketinggalan, kadang ada gitu yang kuliah malah belepotan karena keasikan diluar. Hahaha 😀

        Like

  3. Klo saya udah kapok keluat dari zona nyaman. Pengalaman buruk sampai berbekas. Sekarang dalam hidup ini saya fokus untuk menjaga zona nyaman saya dan tidak memaksakan diri terlalu berlebihan.

    Like

    1. Wah, kalo kaya gt sebenernya saya kurang setuju. Kecuali kalo saya sudah berumur mgkin ya. Soalnya mumpung masih muda.
      Tapi saya blm pernah pengalaman buruk sampai berbekas sih..

      Liked by 1 person

  4. Mahasiswa (terutama yang semesternya baru sedikit) memang cenderung untuk ikut ini itu. Tak apa, karena itu sebenarnya dlm rangka pencarian passion yang pas buat diri. Tapi, pada akhirnya nanti akan mengerucut (bertahan) pada aktivitas yang menurutnya paling pas. *pengalaman*

    Saran: jalani aja semuanya, tapi tentu selama aktivitas2 itu tidak dzalim thd aktivitas pokok/wajib km. Karena, akan banyak manfaatnya dr berorganisasi setelah pasca kampus nanti…

    Liked by 1 person

    1. Sejujurnya ini sih yang saya tunggu, saran dari yang semesternya udah banyak hehe.
      Sebenernya saya enjoy sih mas dg segala kesibukan (ah iya, ditambah satu kepanitiaan). Tapi entah kenapa minggu2 ini semua yg saya ikuti sedang sibuk2nya sampe rapat barengan dsb. Saya justru takutnya ga maksimal berkontribusi pd amanah yg saya pilih…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s