Sometimes Choices Make You

Architectural Photography
Architectural Photography by Steward Image

What’s your biggest regret?

Warning: flash back, basi

I had so much regrets, tapi yang paling ngena dan kadang-kadang masih kebayang adalah… nggak nyobain daftar Arsitektur UNDIP pas SNMPTN. It has been two years ago. But, ah. Entah kenapa belakangan ini jadi sering kepikiran. Kayanya sih kepikiran tiap awal tahun ajaran baru gini. Masa dimana anak-anak lulusan SMA sedang berusaha meraih mimpinya lebih dekat. Belajar di LBB sampe malem. Ikut tes sana-sini. Cari info kemana-mana. Mereka berjuang.

Dan, ya. Seringkali saya menyalahkan diri saya yang terlalu pengecut untuk berjuang.

Cita-cita saya sejak kelas sebelas SMA adalah menjadi arsitek (jangan tanya berapa kali saya berganti cita-cita). Seperti mayoritas anak SMA lainnya, saya kepoin arsitek itu belajar apa, universitas yang arsitekturnya bagus dimana, dan semacamnya.

SAPPK ITB. Yakali siapa yang ga kepengen? Tapi SAPPK cuma sekedar ‘pengen’, bukannya pengennnn bangeeet. Lalu beralihlah saya ke UGM. Hmm, Yogyakarta. Siapa yang ga pengen? Yang jelas bukan saya. Tapi karena sekolah saya punya track record yang kurang bagus di UGM, saya mencari alternatif lain. Dan itu jatuh pada UNDIP.

Why UNDIP?

Karena UNDIP ada di Semarang dan Semarang deket sama Yogyakarta alias sama-sama ada di Jawa Tengah. Kenapa Jawa Tengah? Karena Jawa Barat terlalu jauh dan seumur-umur saya hidup di Jawa Timur. Dan saya selalu suka dengan Semarang. Oke, ini sok-sokan banget mengingat saya baru sekali ke Semarang. Tapi di pikiran saya Semarang jelas lebih ramah daripada Surabaya yang, errr, metropolitan sekali. Gatau sih ya, tapi ini komentar ibunya Iin, sahabat saya yang kuliah di Semarang, pas tahu saya bakal kuliah di ITS,

“Enak Semarang, Bil. Kota besar tapi ga seramai Surabaya.”

Maunya juga gitu, Te.

Jadi, gimana ceritanya bisa kuliah di Teknik Sipil ITS, Bil?

Pas browsing tentang arsitketur, saya baca-baca juga tentang teknik sipil. Dan reaksi saya setelah sedikit-banyak paham apa yang bakal dipelajari di sipil adalah, “Oh yuck! Big no ini mah sipil.”

Ha ha ha.

Saat saya udah mantep pengen arsi UNDIP, halangan datang. Yep, temen sekelas saya, yang jauh lebih pro dari saya, kepengen juga di arsi UNDIP. Ya gapapa dong, Bil, namanya juga bersaing.

Oh, remember. Back then, I was the coward Bila.

Karena saya pengen lolos SNMPTN dan sama sekali ga siap SBMPTN, saya cari-cari lagi PTN yang sekiranya masih di jangkauan saya dan arsitekturnya ga kalah sama UNDIP. And here we go to ITS.

ITS. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Bertempat di Surabaya. Cuma tiga jam dari rumah. Cuma seharga tiga ribu rupiah tiket KRD (sekarang enam ribu). Lima puluh ribu kalau naik Cepu Express (sekarang gatau berapa ketauan naiknya yang murah), berangkat jam enam pagi nyampe sana jam delapan lebih dua puluh lima. Kedua orang tua saya setuju. Oke, fix. Arsi ITS.

Tapi yang saya tulis di pilihan pertama SNMPTN adalah Teknik Sipil ITS.

Dan tiba-tiba saya ga mood buat cerita kenapa saya bisa menuliskan sipil ITS di pilihan pertama saya.

Antara ga mood dan malu, ehe. Perpaduan antara ke-plin-plan-an, kebodohan, ke-sotoy-an saya. Dan yang jelas, bagian dari kekuasaan dan takdir-Nya.

Sejujurnya, meskipun saya menyesal ga menuliskan Teknik Arsitektur UNDIP maupun Arsitektur ITS di pilihan pertama saya, saya ga pernah menyesal bisa masuk ke Teknik Sipil ITS.

Sampe berani-beraninya nyesel, ga bersyukur lu, Bil.

I mean, Allah SWT jelas tahu mana yang terbaik buat hamba-Nya. Saya yang walaupun suka banget sama arsitektur malah ‘dimasukkan-Nya’ ke dunia teknik sipil. Yang pas saya browsing isinya segala sesuatu penuh resiko dan perhitungan serta tanggung jawab yang besar.

But well, civil engineering fits me better than architecture. I love drawing, sketching, etc but I’m not that good. Dan alhamdulillah semakin ke sini teknik sipil semakin mengasyikkan buat saya #cie #sepik #cobaingetbeton

Oh, dan jangan lupa tanpa mereka Teknik Sipil ITS ga bakal se-mengasyikkan ini!

 

Bojonegoro, 1 Agustus2016

P.S. Agak gimana gitu nulis hal yang basi gini. Tapi lagi pengen nulis dan this whole things came to my mind.

P.S.S. Sebentar lagi tahun ketiga saya. Ada saran dalam hal penjurusan? Masih bingung banget.

Advertisements

8 Replies to “Sometimes Choices Make You”

  1. Kebalikan ya dari aku 🙂 I’ve been regretting my past idealism. Aku dulu snmptn ambil yg gradeny tinggi2 dan aku gak keterima 😀 Banyak yg bilang ‘terlalu idealis’ tapi ya namanya mimpi harus dicoba. Kadang malah nyesel harusny aku dulu sedikit lebih bijak lah. Ah tapi udah lah. Life’s goes by the way. And I’m somehow gratitude to my medschool life. Physicly and mentally :). Tetap semangat 😀

    Liked by 1 person

    1. Waaah, ga nyangka bakal ada yg komen dan bener2 kebalikanku. Penyesalan emang tempatnya di akhir kan ya? Semoga kita bisa belajar dari masa lalu. Semangat yuhuu😚😚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s