Semester Enam Tidak Kalah Seru

dear-zindagi-poster-nbf-min-1
Bukan, bukan review film.

My last post is six months ago and I’m kinda miss you, WordPress.

Jadi selama enam bulan tersebut saya menikmati liburan semester lima kemudian dilanjutkan perjuangan menumpas menerjang mengarungi melewati menyelesaikan semester enam. Setelah saya ingat-ingat kembali, liburan saya semester lalu tidak terlalu berfaedah (kapan, Bil, liburmu berfaedah?). Namun, setidaknya saya berkesempatan main ke Yogyakartaluv cihuuyyy. Memang ya, Jogja itu lovable banget.

Liburan di Jogja semester lalu akan saya ceritakan lain waktu (kalo inget, kalo sempet, kalo ga mager, kalo dll.) karena saat ini saya ingin membagikan perjuangan pengalaman saya menumpas menerjang mengarungi melewati menyelesaikan semester enam (lebay ya lebay emang).

Semester enam sudah usai sekitar dua bulan yang lalu jadi semoga saya masih mengingatnya. FYI, saat ini saya sedang menjalani kerja praktek di proyek Bendungan Bendo, Sawoo, Ponorogo, yang berarti saya ga lagi liburaaaaan.

Nah, mari mundur ke beberapa bulan di belakang.

Semester enam adalah saat beragam keputusan dibuat. Bidang untuk Tugas Akhir. Pengambilan mata kuliah Teknik Penulisan Ilmiah yang akan menuntun kami menuju proposal yang berarti berusaha untuk lulus 3,5 tahun. Udah, dua itu aja sih yang krusial. Nggak sekrusial itu sih, karena bidang TA masih bisa ganti dan yang ambil TPI belum tentu lulus 3,5 tahun. Tapi mari kita anggap ini krusial.

Karena saya adalah tipikal manusia plin-plan yang susah memutuskan sesuatu, ngendaslah saya di masa FRS-an kemaren. Ambil TPI ga ya, ambil hidro apa tanah ya, lulus cepet ga ya, ambil hidro apa baja ya. Dan kebimbangan-kebimbangan lainnya.

Kemudian setelah berbagai macam pertanyaan dan jawaban dari dan untuk diri sendiri, saya memutuskan mengambil mata kuliah pilihan hidroteknik. Bonus satu mata kuliah tanah: Metode Perbaikan Tanah. Untuk TPI….

“Yakin ta, Bil, ilmumu udah cukup?”

“Emang kon mari lulus kate lapo, Bil?”

“Ga eman ta ngelepas status mahasiswamu?” Karena saya menyadari betapa menyenangkannya menjadi mahasiswa.

“Pengen TA opo? Hidro sg piye?”

“Yakin ambil hidro? Ga pengen tanah? Opo baja?”

“Iso ta kon? Sanggup?”

Dan pertanyaan-pertanyaan lain baik pesimis maupun realistis berseliweran di kepala selama masa-masa FRS-an. Di masa penuh kebimbangan tersebut (alay ini) saya menonton sebuah film India berjudul Dear Zindagi. Film yang dibintangi Shah Rukh Khan tersebut memiliki banyak quote penuh makna dan ada satu yang menyentil batin saya.

“Sometimes we choose a difficult path only because we feel that to attain important things we need to choose a difficult path. We think that it’s important to punish ourselves, but why can’t we choose a simple path? What’s wrong with that? Especially when we are not ready to face that difficult path.”

Begitulah.

Setelah denger Pak Psikolog ganteng (saya bukan fans SRK sih, tapi dia emang ganteng) ngomong begitu ke tokoh utamanya (cewek, cakep, saya lupa namanya, gatau nama aslinya), saya yang lagi galau ambil TPI ato nggak langsung ngerasa ada backsound bunyi di kost,

Jengjeeeeeeengggg…..

srk bhatt

Gausah ambil TPI.

Karena Ummi sama Abi menyerahkan keputusan pada saya, yasudah. Akhirnya karena ga ambil TPI saya masih bisa incip-incip matkul pilihan non-hidro semacam Metode Perbaikan Tanah. MPT ini udah bikin incip-incip lagi sih, nyebur! MPT mah harus menceburkan diri. Sudah-sudah lupakan MPT.

Setelah memutuskan untuk tidak ambil TPI saya ternyata masih maruk (Bahasa Indonesianya maruk apa ya? Berlebih-lebihan?) dan ambil 23 SKS. Tapi selain MPT yang harus nyebur, Jembatan yang tubesnya ada dua, Teknik Sungai Pantai yang penuh rumus, alhamdulillah mata kuliah pilihan hidroteknik saya tidak terlalu membebani dan kelompok mata kuliah Wawasan Teknologi saya enak jadi ga perlu misuh-misuh tiap minggu kaya si Bebel yang dapet kelompok ga asik.

Terimakasih kepada Ulin partner Jembatan saya yang sangat rajin dan rapi dan tahan sama saya yang malas ini. Terimakasih kepada MPT squad Bebel dan Fisma yang telah menjadi partners saya dalam menyelami dunia MPT yang penuh dengan deadline dan rumus super panjang dan XSTABL yang masih DOS, terimakasih. Terimakasih Pak Cahbun yang mejadikan Teknik Pantai sangat santayy karena emang di pantayy. Terimakasih kepda Firda, Daryl, Ijung, Adnan dan teman-teman semua (dan dosen) yang telah menemani saya mengarungi kehidupan semester enam. Tinggal dua semester lagi, rek! Aamiiinn…

Terimakasih Allah akhirnya semester enam saya mampu saya selesaikan dengan baik. Seriously, makin ke sini makin bisa lebih pasrah sih. Wkwk. Maksudnya, dulu bisa sampe sedihh gitu kalo gabisa ngerjain UAS. Sekarang? Gabisa? Yaudah dikumpul aja. Berdoa semoga dosennya diberi hati yang lapang. EHEHEHEHE. Asal udah belajar saya legowo. Sedihnya kalo ga belajar, yaudah salah sendiri, Bil. Semester lima sering banget nginep di kampus buat nubes. Semester enam kemaren? Kaya banyakan tidur di kostnya deh kkkk. Udah bisa memerkirakan kapan harus nubes semaleman, kapan gausah nubes, kapan bolos asis, kapan bolos Jembatan jam tujuh, dan kapan bolos Wastek yang dua setengah jam itu. Alhamdulillah Bila akhirnya pinter bolos. Loh?

Maksudnya saya akhirnya mampu mengefektifkan waktu saya (re: memersingkat waktu nubes untuk memerbanyak waktu tidur^^v).

Begitulah. Kehidupan semester enam saya akhirnya terselesaikan.

Byebye! (dengan suara khas Upin Ipin)

 

Ponorogo, 20 Juli 2017

P.S. Happy birthday, Daryl dan Mahendra Capski!

Advertisements

4 Replies to “Semester Enam Tidak Kalah Seru”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s