Short Escape to Surakarta

solo
Keraton Solo
Dialog Pendek di Atap Kota Solo
Tajuddin Bacco

Lewat tengah malam
di Solo
Waktu adalah beku
Cahaya bagai bersusulan
ke belakang
Menimpa deretan jalan
yang lengang
Semilir malam
Tempat melaju susuri
Bengawan Solo yang kusam
Dilanda penat
Ingin kembali kepada
Sendiri
Dalam diam dan diam
Di atas bus Solo-Jogja, 1983
Sumber : http://kumpulankaryapuisi.blogspot.co.id/2014/04/puisi-dialog-pendek-di-atap-kota-solo.html#ixzz4vWvJqX3V

 

Minggu lalu (7-8 Oktober 2017) saya berkesempatan untuk mengunjungi Kota Solo. Yay! Akhirnya setelah biasanya cuma transit bus dari Bojonegoro ke Klaten, saya benar-benar mengunjungi Surakarta.

Lebih seperti short escape yang bener-bener short sih sebenernya.

Saya ke Solo dalam rangka acara himpunan departemen saya (FYI, sekarang di ITS tidak lagi menyebut jurusan, sudah berganti menjadi departemen), HMS ITS ke HMS UNS. Universitas Sebelas Maret. UNS ini nasibnya mirip-mirip dengan ITS sepertinya. Sering dikira Universitas Negeri Solo. Kaya ITS yang kalo orang gatau dikira Institut Teknologi Surabaya. Padahal S for Sepuluh Nopember. Ck ck..

Singkat cerita, saya bersama rombongan berangkat ke Solo Jumat tengah malam. Kemudian tiba di Solo kami langsung ke penginapan. Coba tebak kami menginap dimana… Di Taman Budaya Jawa Tengah. Keren ga tuh?

Taman_Budaya,_Jawa_Tengah
Taman Budaya Jawa Tengah

Itu fotonya dari Wikipedia ya, saya sepertinya terlalu lelah dan mager untuk foto-foto. Jadi Taman Budaya Jawa Tengah (dulunya Taman Budaya Solo) ini tuh kaya semacam taman budaya gitu, ada joglo buat pagelaran, ruang buat teater, dsb. Nah, di kompleks taman budaya ini, ada wisma yang biasa digunakan seniman-seniman menginap saat ada pentas. Di situ lah saya dan temen-temen menginap.

Saya ga sempet eksplor taman budayanya (sad), karena jadwal yg cuma sehari dan padet (ceilah).

Jadi setelah sampai penginapan (jam 9 pagi), kami sarapan, mandi, lalu langsung caw ke UNS. Nyampe UNS kira-kira jam 11.30 WIB. Jangan salah, taman budayanya literally sebelah UNS. Tapiiii, karena bukan anak sipil kalo ga ngaret (ditampol), yah begitulah.

Abis sholat dhuhur dan makan siang, mulailah acara di HMS UNS. Sharing-sharing tentang himpunan masing-masing, tentang departemen, tentang proker. Ya gitu-gitu deh.

Anw, anak HMS UNS nya baik-baik dan asyik. Terus makanan yang disajiin itu jajanan tradisional semacam arem, serabi, tahu baso, gitu-gitu. Enyak<3 (Dasar manusia, perut ga pernah ketinggalan buat diomongin).

SEKIP.

DSC_0224
HMS ITS bersama HMS UNS
DSC_0227.JPG
HMS UNS bersama HMS ITS

Selesai kunjungan sekitar jam 17.30 WIB jadi kami sekalian sholat maghrib (+isya’) di UNS. There is one thing I love for sure about travelling, the chance for nge-jama’ qasar sholat. YEYYYYYYY HAHAHA.

Kemudiaaaan, waktunya jalan-jalan. Kebanyakan pas ditanya, “Solo jalan-jalannya kemana sih?” “Tawangmangu.” Tapii, karena pas itu udah malem dan capek, akhirnya kami ke Galabo.

I don’t have any idea what Galabo is. OH. Ternyata itu semacam sentra makanan gitu. Tapi waktu itu malem minggu dan sepi gitu tempatnya. Ternyata… Galabo terkenal mahal. Hmm, yah, karena ga tiap hari ke situ juga, akhirnya saya beli…

  1. Sate Buntel (Rp 27.000,00) belum sama nasi, dapet 2 tusuk
sate-buntel-khas-solo.jpg
Sate Buntel Khas Solo

Itu fotonya sama ambil dari sini. Excited banget nyobain ini sate dan ga sempet foto yang bagus. Enak sih… enak. ENAK. Sebagai pecinta sate, enakkkk titik. Tapi masi agak bau kambing gitu. Yah, kalo saya sih ga terlalu peduli ya ekekek, tapi mungkin ada Sodara yang mungkin terganggu gitu dengan aromanya.

 

  1. Tengkleng (Rp 26.000,00) belum sama nasi, dapet semangkuk
tengkelng
Tengkleng

Lagi-lagi bukan foto saya. Dari sini. Jadiii, setelah sate buntel saya abis, sebelah saya di sharfincin lagi makan tengkleng dengan nikmatnya. Setelah nyoba, hmm, gausah beli deh. Eh, si mamet ngajakin, “Bil, beli berdua yuk?” “AYOK!”

Hmm, enak sih. Seger gitu. Terus kan isinya tulang-tulang daging, jadi asyik ngerokotinnya wehehehe.

 

  1. Ronde, eh bukan, apa ya namanya, gapake jahe pokoknya

Bukan, bukan ronde. Apa ya. Saya lupaaaa. Ga inget sama sekali. Itu pokoknya anget dan tidak berjahe. Hehe. Maafkan, saya bukan pecinta wedang (karena sebagian besar pake jahe). Jadi pas tahu itu gapake jahe, saya pesen.

Kenyang di Galabo kita pindah lapak di deket-deket Galabo juga. Waktu itu lagi ada lomba reog kayanya. Rame dan karena kita datang ga dari awal, jadi dapet tempat belakang dan ga terlalu kelihatan. Akhirnya setelah nonton sebentar, kita caw ke arah keraton.

Lah? Lah? Lahhh?

peta jalan solo
Napak Tilas Saya dan Kawan-kawan

 

Jadi bangunan biru-biru yang saya foto itu Keraton Solo? Hah. Seriouslyyy baru tau sekarang ini. Right now banget setelah search Keraton Solo buat nyari mapsnya.

keraton
Itu ternyata Keraton Solo geng

Dan OH. Jadi yang kemaren ada lomba reog itu di Benteng Vastenburg. Plis, Bil-_- semua ini karena malam dan memori saya yang pendek.

Jadii, dari nonton reog di Benteng Vastenburg ituu, kami (saya dan seglintir orang-orang tanpa arah lainnya) berjalan ke arah keraton. The sign says so.

ke arah solo
Jalan ke Arah Keraton (bukan foto saya)

Yaudah kita jalaaan aja. Waktu itu udah jam 20.30 WIB. Udah sepi, toko-toko udah tutup. Pasar Klewer udah tutup. Tapi kita tetep jalaaan aja kaya yg di Google Maps yang saya screenshotin itu. Terus belok ke gang yang ada gapura gedeee dan lihat bangunan bagus biru itu. Dan sekarang saya baru paham ternyata itu Keraton Solonya. Saya kira, “Solo keren banget ya, jalan-jalan gang gitu gapuranya sekeren ini semua?”

Begitulah. Tanpa menyadari kalo itu tadi keratonnya, kami (tapi kayanya cuma saya yg ga sadar kalo itu keraton) melanjutkan lagi perjalanan menuju alun-alun.

Mamet : ”Google Maps alun2 dong, Bil.”

Bila       : “Loh? Bukannya kita mau ke keraton?”

Mamet : “Bukan, kita mau ke alun-alun.”

Bila       : “OH.”

Lalu kita berjalan di pinggir jalan (kalo di tengah ketabrak dong neng), satu satu gitu karena kalo berdua takut ketabrak juga. Gaada trotoar fyi. Pokoknya bukan buat pejalan kaki deh. Mana malam semakin malam…

Kemudian saat google maps udah menunjukkan alun-alun utara…

..

.

Nothing.

Waktu itu udah jam 9 malem dan di alun-alunnya gaada apa-apa sama sekali. Alhamdulillah masih ada Masjid Agung sehingga kita foto-foto bentar di sana. I’d like to post the photograph but I don’t have one. Kami foto pake hapenya Fabian dan Fabian ini adalah adek tingkat saya yang tidak saya temui setiap hari, jadii, sampe sekarang ndak punya fotonya.

Yasudah. Kemudian kita jalan lagi balik ke Galabo dan menyadari sesuatu.

“Lah, jadi daritadi kita itu jalan muterin alun-alun?”

Ngek. Begitulah jalan-jalan malam saya di Kota Surakarta yang penuh kehangatan. And we’re back to our hostels.

Besoknya, setelah semua sarapan mandi packing beres, foto-foto, kami kembali ke Surabaya kota perjuangan tiada akhir. Masih sempat mampir bentar ke toko oleh-oleh sih, but then welcome back reality!

1507453379955
Segilintir HMS ITS

 

Surabaya, 15 Oktober 2017

PS. Wisma Taman Budaya Jawa Tengah punya tembak yang bagus buat foto-foto.

IMG_1988
Bersama Ardel di tembok wisma yang jadi studio dadakan
IMG_2077
Bendahara dan DANUS yang akur.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s